Diskusi soal IMAN dan Logika

Assalaamualaikum

IMAN menurut Wikipedia,

Iman bahasa Arab (الإيمان) secara etimologis berarti ‘percaya’. Perkataan iman (إيمان) diambil dari kata kerja ‘aamana’ (أمن) — yukminu’ (يؤمن) yang berarti ‘percaya’ atau ‘membenarkan’. Perkataan iman yang berarti ‘membenarkan’ itu disebutkan dalam al-Quran, di antaranya dalam surah al-Taubah ayat 62 yang bermaksud: “Dia (Muhammad) itu membenarkan (mempercayai) kepada Allah dan membenarkan kepada para orang yang beriman.”

Para sahabat dan ulama telah mendefinisikan istilah iman ini, antara lain, seperti diucapkan oleh Ali bin Abi Talib r.a. : “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota.” Aisyah r.a. berkata: “Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.” Imam al-Ghazali menguraikan makna iman: “Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota).”

Kesimpulannya, bahwa iman itu keyakinan yang dibenarkan oleh hati, diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan.

——————-

 

Pendidikan IMAN kepada Nabi Musa a.s

Suatu ketika Nabi Musa a.s mengalami sakit pada perut nya, kemudian beliau mengadukan penyakit nya ini kepada ALLAH Subhaanahuuwataala.

Maka ALLAH Subhaanahuuwataala wahyukan kepada Nabi Musa a.s agar memakan pucuk pucuk kayu, maka asbab dari makan pucuk kayu tersebut sembuhlah Nabi Musa a.s. dari sakit perut nya.

Kemudian pada lain ketika Nabi Musa a.s mengalami lagi sakit perut, tetapi kali ini beliau tidak mengadukan nya kepada ALLAH Subhaanahuuwataala, beliau langsung saja mencari pucuk pucuk kayu dan memakannya.

Namun yang terjadi kali ini bukan sakit perutnya menjadi sembuh, malah sakit perut nya semakin bertambah jadi.

Kemudian Nabi Musa a.s mengadukan perkara ini kepada ALLAH Subhaanahuuwataala.

“Ya ALLAH mengapa setelah makan pucuk kayu ini sakit perut ku makin bertambah jadi, bukankah dulu dengan memakan pucuk kayu ini sakit perut ku menjadi sembuh, tapi sekarang setelah memakan nya sakit perutku malah makin bertambah parah?” demikian tanya Nabi Musa a.s

“Wahai Musa” jawab ALLAH dalam Firman NYA

“Sesungguhnya Yang Menyembuhkan sakit perut mu bukanlah pucuk-pucuk kayu itu, Yang Menyembuhkan nya adalah AKU” demikian Firman ALLAH Subhaanahuuwataala kepada Nabi Musa a.s

Pelajaran yang dapat kita petik adalah :

Dulu ketika pertama kali Nabi Musa a.s mengalami sakit perut, beliau teringat kepada ALLAH Subhaanahuuwataala, dan beliau mengadukan penyakitnya kepada ALLAH Subhaanahuuwataala, ketika itu IMAN beliau dalam keadaan benar.

Tetapi pada kali berikutnya ketika Nabi Musa a.s mengalami sakit perut lagi, yang ada dalam pikiran beliau adalah pucuk pucuk kayu, beliau tidak teringat lagi kepada ALLAH Subhaanahuuwataala, tidak mengadukannya lagi sakitnya kepada Subhaanahuuwataala.

Saat itu lah sesungguhnya IMAN beliau sedang rusak, karena ada keyakin kepada selain ALLAH Subhaanahuuwataala, yakin kepada pucuk pucuk kayu.

Tembusan :

Special for Farid, Geddoe, DB dan RETORIKA

untuk SyahbaL, Landy, ariss_, bang Aip, dobelden, deking, fertob, cabe rawit, Retorika, achoey, Zal, DJ Norie, amed, deteksi, aba Horyza, abee Ayang, kang tutuR, 4j4x, manusia super, Ibnu Abdul Muis, Rozy, herianto, heri setiawan, Ged doe CopraL, mad Syair, Hery Syafrial, Haitan Rakhman, agorsiloku, santri buntet, Mujahid alam maya, telmark

15 pemikiran pada “Diskusi soal IMAN dan Logika

  1. Keimanan seseorang pada Allah SWT, tidaklah menghalanginya untuk menggunakan logika.
    Bagi seorang muslim, logika adalah proses memahami fenomena dengan menggunakan indra manusia. Keputusan dari hasil berlogika adalah sesuatu itu: (1) irasional (tidak sesuai logika), (2) rasional (sesuai logika), atau (3) supra rasional (di luar jangkauan logika).
    Sementara itu, orang kafir hanya mengenal irasional dan rasional. Orang-orang kafir tidak faham tentang supra rasional.
    Untuk share silahkan klik http://sosiologidakwah.blogspot.com

  2. Perjalanan Musa telah banyak memberikan HIKMAH kepada kita-kita. Bagaimana ketika Musa mengadakan perjalanan dengan Khidir. Bagaimana ketika Musa berada di Lembah Thuwa saat menerima AJARAN KEBENARAN dari Tuhannya. Kebetulan saya menulisnya seperti ini : ngracut-busananing-manungso

  3. Iman itu kan logika …
    contoh iman kepada ALLAH..ya jelas kalau ada alam ini berarti ada sang pencipta,kan udah banyak buktinya.baik itu ilmu biologi,fisika dllnya
    begitu juga dengan yang lainnya.
    Yang nggak boleh sich Lupa akan Iman karena logika.
    Lupa akan ALLAH dan rosulnya.

  4. pendidikan Iman yang dialami nabi Musa a.s. patut dijadikan pegangan ketika kita *seringkali* berfikir dengan logika..

    justru yg perlu di perkuat adalah segala sesuatu nya di kembalikn pada Allah swt..

    pengertian iman *yg kita ketahui* adalah “keyakinan yang dibenarkan oleh hati, diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan.”
    tetapi hati yang seperti apa?
    hati yang selalu dekat pada Allah swt..
    sehingga lisan dan perbuatannya sesuai dengan apa2 yang Allah swt perintahkan..

  5. Iman : Lihat 10:100, dan 49:14
    Iman itu dengan ijin Allah, bukan hasil pemikiran (10:100)
    Iman itu dimasukkan ke dalam Qolb (49:14)

    wijaya, 08164812811

  6. Kembalikan semua definisi beragama kita kepada Al Qur’an, jangan membuat definisi yang macam-macam. Dengan demikian iman adalah sesuatu yang diijinkan langsung oleh Allah (QS.Yunus(10):100) untuk masuk ke dalam Qolb kita. Arab badui (Hujurat(49):14) yang telah mengucapkan mereka telah beriman saja dilarang mengatakan itu karena belum ada iman masuk ke dalam Qolbnya

  7. Nimbrung,…

    Allah SWT menciptakan manusia dengan kelengkapan sbb.:
    1. Jasad yg baik
    2. Otak / akal pikiran untuk supaya belajar mendapatkan pengetahuan perbedaan mana yg benar dan salah
    3. Ikhtiyar berusaha memilih yg benar atau salah (hanya ada 2 pilihan, tiada pilihan ditengah atau yg sedang2)
    4. Otak Logika kita mau dipertanggungjawabkan seperti apa kalau tidak buat beriman?

    Contoh nyata dapat beriman dengan logika sudah banyak betebaran, dan Seluruh Para Nabi dan Rasul tanpa terkecuali semuanya mengajarkan umatnya bagaimana proses keimanan sesuai dengan zaman-nya…

  8. Assalamu’alaikum wr wb…
    salam kenal..
    gimana dg sebagian orang barat yang menggunakan logikanya dulu baru beriman? sebenarnya lebih dulu mana sih antara iman dan logika dalam beragama?

    Dahulukan IMAN
    Logika untuk menyempurnakan IMAN

  9. Salam sejahtera Ki.
    Sesungguhnya, sepanjang kehidupan Musa a.s dipenuhi dengan ilmu, dalam hal ini logika dan teknologi. Sungguh sulit membayangkan seorang Musa mampu meruhani.
    Jadi cerita di atas hanya gambaran, seperti juga kisah pertemua Musa dan Khidir a.s yang lebih memperjelas posisi Musa a.s adalah orang awam dalam ilmu hakikat tetapi seorang pakar dalam logika.
    Terimakasih untuk ruang komentarnya Ki.
    Salam takzim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s