Akal dan HATI antara Percaya dan Yakin (HATI, bagian yang terlupakan …2)
April 23, 2007
Assalamualaikum wr wb…
Sebetulnya saya pengen nanggapin postingan si agor agak panjang, tapi sesuai saran temen yg lagi kena musibah, kalau saya buatkan comment, takut OOT lagi, jadi buatkan trekbek aja
Disuatu kampung ada sebuah pertunjukkan sirkus yang sangat menarik, atraksi nya bermacam-macam.
Pada suatu sesi acara ditampilkan lah pertunjukan keterampilan seorang artis yang dapat berjalan menyeberang tali yang dibentangkan dari ujung ke ujung arena pada ketinggian hampir 10 meter;
Pada sesi pertama, sang artis sambil memegang tongkat penyeimbang badan, bertanya kepada penonton.
“Apakah para penonton percaya saya dapat berjalan melintasi tali ini sampai ke seberang?” tanya si artis.
“Percaya!” penonton menjawab serempak.
Kemudian sang artis itu berjalan hati hati, meniti tali dibantu tongkat penyeimbang badan, hingga sampai keseberang dan disambut tepuktangan hangat para penonton.
Sesi berikutnya sang artis melepas tongkat penyeimbang badannya. Sebelum aksi berikutnya sang artis berkomunikasi lagi dengan penonton.
“Sekarang, saya melepas tongkat penyeimbang badan saya, apakah penonton percaya saya masih dapat menyeberangi tali ini dengan selamat?” tanya sang artis.
“Oo… kami percaya” jawab penonton bersemangat.
Perlahan sang artis mulai menapaki tali penyeberangan dengan hati hati, merentangkan kedua tangannya sebagai alat bantu penyeimbang badan, hingga ia selamat sampai ke ujung tali yang satu nya lagi.
Kembali penonton memberikan tepuk tangan meriah.
Selanjutnya sang artis mengambil sebuah kursi dan berkomunikasi lagi dengan penonton.
“Sekarang saya akan menyeberang tali ini sambil membawa kursi. Masihkan penonton percaya saya akan sampai keseberang dengan aman?” tanya sang artis kembali.
“Percaya…” penonton menjawab dengan antusias.
Kembali sang artis mempersiapkan diri, dijunjungnya kursi yg sudah dipersiapkan tadi, dan dia mulai menapaki tali penyeberangan dengan hati-hati.
Penonton menahan nafas, hening…. . Namun karena kepiawaian sang artis memang sudah teruji, kembali sang artis dapat menyelesaikan atraksinya dengan sukses. Dan penonton pun kembali bertepuk tangan tanda suka cita.
Pertunjukkan menjadi semakin menarik, dan penonton menjadi semakin antusias, berharap akan ada lagi atraksi yg. lebih nenarik.
Sang artis kembali berkomunikasi dengan penonton.
“Wahai penonton sekalian, kita telah saksikan beberapa atraksi. Kini kita sampai pada atraksi puncak. Saya akan kembali menyeberang tali ini sambil membawa kursi, tetapi kali ini kursi itu akan di duduki orang“, demikian penjelasan sang artis.
“Sekarang masihkah penonton percaya akan kemampuan saya” , tanya sang artis kepada para penonton.
“Kami percaya…“, penonton menjawab sambil berteriak gembira.
“Sekarang kita akan memulai pertunjukan puncak” kata sang artis, “tetapi saya memerlukan sukarelawan yang siap duduk diatas kursi yang akan saya bawa menyeberang ini” lanjutnya.
“Apakah ada penonton yang siap…?” demikian tantangan sang artis kepada para penontonnya.
Semua penonton terdiam, hening, meraka saling lirik…..
“Adakah yang siap…?” kembali suara sang artis memecah keheningan
Tak satu jawaban pun keluar dari mulut para penonton.
“Adakah ada Blogger yang siap?” Wak Abdul bertanya.
Kalau ada yang siap, berarti anda menjawab dengan HATI, keberanian anda untuk duduk di atas kursi itu adalah karena adanya suatu KEYAKINAN.
10 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed


1.
antobilang | April 23, 2007 at 3:07 pm
pokoknye pertamax dah….
2.
wargabanten | April 23, 2007 at 8:47 pm
hMMm…. GW semaleman muter2 di BLOG… Sampai gak terasa sudah pagi… Bobo2 dulu ah…
3. Blog Wadehel di Bajak Lagi? « w a d e h e l - b a j a k a n ! | April 24, 2007 at 5:06 am
[...] ya.. saya tahu, pasti hanya judul itu saja yang anda simpulkan kan? tenang wadehel. ketakutan anda yang anda tulis di blog anda itu ngga perlu koq. kami ngga akan benar-benar merebut account [...]
4. Mendadak ngeTOB « hamba | April 24, 2007 at 4:33 pm
[...] beriringan dengan akal, tapi justru sebaliknya, kadang malah harus bertentangan…, masuk AKAL ndak [...]
5.
irdix | April 24, 2007 at 8:05 pm
Humm… jadi apapun ada enak dan ga enaknya, jadi penonton misalnya.. hanya sedikit yang perhatian, berdesak-desakan kesana kemari dengan bau keringat dan aroma parfum murahan yang berjubel jadi satu menjadikan oksigen sendiri enggan untuk sekedar mampir di paru-paru.
Disisi lain, sang artis sendiri memiliki apa yang disebut kejenuhan, kejenggahan tersendiri saatprivacy, dan apa yang disebutnya nyaman terusik dan tidak berkenan baginya.
Karena sama-sama ga enak… aq milih jadi.. uhmm… jadi..
Nah.. jadi BATU. :p
6. Otak, Akal dan Hati « I’m not King, Queen, or Gods. I’m just Slankers | April 25, 2007 at 12:06 pm
[...] soal kepercayaan disini. Yang mebuat kita percaya bukanlah hati, melainkan statistik, kalau sebelumnya sudah berhasil, [...]
7.
Bercinta Dengan Saudara Sendiri « Parking Area | Juli 2, 2007 at 12:54 pm
[...] Setiap hari di perguruan awan Angin adalah siksaan buat Bulan, karena ia dilatih oleh dua kakak jahat dan egoisnya itu. Semangkin tersiksa dengan matanya yang selalu menangkap keberadaan Surya, telinganya yang terus menangkap suara Surya yang baginya laksana alunan suara merdu merasuk raga. Dimana semuanya berubah menjadi kacau balau saat dua kakak kecentilannya membentaknya. “Hei bocah gemblung! Latihan yang benar, jangan clingak clinguk ga karuan!”. Perih rasanya hati, cinta tak berbalas, tersiksa pula oleh kekejaman senior seniornya. Namun ia memaksa untuk terus bertahan. Ia di sini atas kehendak kakak kandungnya, yang merupakan sahabat lama dari ketua perguruan. Tak mungkin ia melarikan diri dari tempat yang serasa neraka ini. Tidak, ia berusaha sekuat tenaga menguatkan hatinya. [...]
8. Welcome to Izo Blog » Blog Archive » Kes adik Nurin Jazlin - Kerajaan patut laksanakan hudud | September 23, 2007 at 12:48 am
[...] Bleh baca kisah antara percaya dan yakin di sini. [...]
9.
Otak, Akal dan Hati « Generasi Biru | Desember 6, 2007 at 3:32 am
[...] soal kepercayaan disini. Yang mebuat kita percaya bukanlah hati, melainkan statistik, kalau sebelumnya sudah berhasil, [...]
10.
akaldanhati | September 11, 2008 at 1:40 am
akal untuk memahami
hati untuk meyakini